Sabtu, 01 Juni 2013

Tentara Spoy Tahun 1812

Tentara Spoy Tahun 1812



Tentara Spoy Tahun 1812


Kasultanan Yogyakarta pernah mengalami apa yang disebut sebagai perang atau Geger Spoy. Hal ini terjadi pada bulan Juni 1812. Penyerangan Inggris atas Yogyakarta ini dilakukan Inggris dengan menggunakan pasukan gabungan, yakni pasukan reguler Inggris dan pasukan dari tentara bayaran yang dikenal dengan kesatuan tentara (resimen) Spey, Spoy, atau Sepehi. Kesatuan tentara ini merupakan kesatuan yang berasal dari Benggala, India. Tentara Spoy sering juga dikenal sebagai tentara Gurkha.

Penampilan tentara Gurkha di tahun-tahun 1800-an dibandingkan dengan penampilannya yang sekarang tentu saja jauh berbeda. Foto atau gambar berikut ini menyuguhkan tentang profil tentara Spoy atau tentara Gurkha pada tahun 1812. Tampak sekali bahwa kostum tentara Spoy dalam gambar itu masih kuat menunjukkan ciri-ciri pakaian negerinya, India. Barangkali yang membedakannya adalah tambahan sepatu lars, celana putih ketat dan lentur yang menonjolkan lekuk liku otot-otot kaki dan anggota tubuh lainnya.

Tampilan tentara Spoy ini di samping gagah juga menunjukkan keindahan dan keunikan kostumnya. Baju lengan panjang seperti jas dengan hiasan seperti bilah-bilah logam di bagian depan yang sekaligus menjadi bagian kancingnya menunjukkan kesan teguh, kekar, dan kuat. Baju lengan panjang yang mendekati model jas ini bisa dipastikan merupakan baju dinas tentara Inggris. Sementara ikat pinggang yang berupa kain seperti selendang (kain sari) yang dililitkan di pinggang tentara Sepoy ini bisa dipastikan merupakan unsur asli pakaian India.

Topi berbentuk silinder yang dipangkas dan dikenakan sedikit miring ke kanan di atas kepala tentara ini mungkin juga merupakan tutup kepala hasil perpaduan gaya tutup kepala ala Inggris dan India sekaligus. Sedangkan pedang panjang yang dibawa tentara ini dengan posisi disilangkan di bagian depan dadanya mungkin merupakan pedang yang umum digunakan dalam tuga-tugas ketentaraan masa itu.
Tentara atau kesatuan dari Spoy (Benggala) ini dikenal sebagai kesatuan tentara yang pemberani, kuat di medan yang sulit, tangguh, dan cukup disegani. Oleh karenanya dalam perkembangannya tentara Spoy atau Gurkha ini dijadikan sebagai satu kesatuan integral dalam sistem ketentaraan Inggris. Mereka mendapatkan hak, gaji, dan kewajiban seperti tentara Inggris pada umumnya.

Gambar tentang tentara Spoy tersebut merupakan gambar cat air yang dibuat oleh William Daniell (1769-1837). Sosok yang digambar merupakan tentara Spoy dengan pangkat Subadar (Kapten) atau sering juga disebut perwira muda (Junior Commissioned Officer, JCO).

Dalam Perang Spoy, tentara-tentara ini memberikan andil cukup besar bagi Inggris untuk menduduk Keraton Yogyakarta dan kemudian merampas sekian banyak harta, pusaka, dan aneka kitab dari keraton. Pada awalnya sebagian tentara Spoy juga bersimpati pada kondisi keraton sehingga sebagian dari mereka merencanakan pemberontakan kepada pemerintah Inggris. Hanya saja rencana itu keburu ketahuan sehingga rencana itu gagal dan Inggris bisa memaksa Yogyakarta untuk menyerah.


a.sartono
Peter Carey, 2011, Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855, Jilid 2, Jakarta: KPG Bekerja sama dengan KITLV, halaman 492.

Gaya Pengantin Jawa Menjelang Abad ke-19

Gaya Pengantin Jawa Menjelang Abad ke-19



Gaya Pengantin Jawa Menjelang Abad ke-19


Berikut ini gambar, lukisan, atau sketsa yang menggambarkan tentang sepasang pengantin. Sketsa ini kemungkinan dibuat menjelang abad ke-19 atau pada kisaran pertengahan tahun 1830-an. Lukisan ini dibuat oleh A.A. Payen dan berada di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda. Lukisan ini sebenarnya lebih menggambarkan sepasang pengantin Jawa dengan gaya busana keprabon basahan yang mula-mula lazim dikenakan di wilayah Keraton Kasunanan Surakarta. Gaya busana ini dulunya hanya boleh dikenakan oleh putra-putri raja. Akan tetapi dalam perkembangannya gaya busana ini boleh dikenakan oleh siapa saja.

Menurut beberapa sumber gaya busana ini kemudian juga mulai dikenakan di wilayah Keraton Kasultanan Yogyakarta. Salah satu versi menyebutkan bahwa setelah Perjanjian Giyanti 1755 gaya busana dari keraton di Surakarta diboyong ke Kasultanan Yogyakarta. Hal ini terjadi karena Sunan Paku Buwana II memang sengaja menghadiahkan tentang gaya dan tata cara berbusana ini kepada putranya, Sultan Hamengku Buwana I yang kemudian bertahta di Yogyakarta.

Dalam gambar atau lukisan tersebut tampak bahwa gaya ikat rambut (gelung) pria tersebut bundar dan bentuknya relatif lebih besar dari gelung-gelung rambut pria di zaman Mataram. Gaya gelung rambut pria dalam gambar ini lebih mirip gaya gelung rambut pria di zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Budha masih berjaya. Sementara gaya gelung rambut pria di zaman Mataram umumnya berbentuk relatif kecil dan terletak sedikit di atas tengkuk. Sedangkan gaya gelung rambut pria di zaman Hindu-Budha terletak di kepala bagian atas.

Keris yang dikenakan pengantin pria pun kelihatan lebih menyembul keluar dana bahkan kelihatan seperti akan terlepas dari badan/pinggangnya. Mungkin pelukis pengantin ini ingin menonjolkan tentang gaya mengenakan keris dari pengantin prianya.
Tampak juga bahwa pengantin ini tidak mengenakan alas kaki. Mungkin saat itu alas kaki bagi pengantin memang belum lazim seperti sekarang. Mungkin juga alas kaki hanya dikenakan di tempat-tempat tertentu. Sementara pada tempat-tempat lain dipantangkan untuk mengenakan alas kaki.

Detil riasan wajah dari pengantin ini tidak kelihatan karena ukuran gambar dan hasil cetakannya kemungkinan memang tidak memungkinkan untuk menampakkan hal itu. Sekalipun demikian, dari sisi gaya busananya tampak bahwa pengantin ini mengenakan gaya busana yang cukup mewah.


a.sartono
sumber: Peter Carey, 2012, Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan di Jawa, 1785-1855 (Jilid 2), Jakarta: KPG bekerja sama dengan KITLV-Jakarta, Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Aseasuk, Fadli Zon Library, dan Gramedia Printing Group.

Stempel, Kartu Ucapan, Kartu Nama di Jogja Tahun 1930-an

Stempel, Kartu Ucapan, Kartu Nama di Jogja Tahun 1930-an



Stempel, Kartu Ucapan, Kartu Nama di Jogja Tahun 1930-an


Dunia stempel, kartu nama, serta urusan cap-mengecap sejak tahun 1930-an ternyata sudah cukup maju. Bahkan jika kita melihat contoh-contoh penawaran yang diajukan para tukang stempel waktu itu, ternyata karya mereka juga sudah bagus. Stempel waktu itu, seperti stempel sekarang, juga dibuat dari karet. Untuk gagang atau tangkainya ada yang dibuat dari bahan kayu maupun logam. Sementara stempel sekarang sudah banyak yang dikemas semi mekanis-berpegas dengan tinta atau pewarna yang mampu keluar (merembes sendiri) dengan merata.

Jika dicermati, hasil pengecapan atau stempel di masa lalu dapat mengingatkan orang akan sebuah nama, alamat, selera, dan maksud dari stempel atau cap-cap itu. Ada yang stempel yang dibuat khusus untuk mengucapkan selamat hari raya. Ada pula stempel/kartu nama yang berisikan teks pendek yang berisi ucapan dan harapan pada seseorang. Teks-teks itu pun ada yang dituliskan dalam huruf Latin maupun huruf Jawa. Gaya ilustrasi atau ornamental yang tertera dalam teks juga menunjukkan gaya dan trend zaman itu. Ilustrasi wayang yang disertakan kebanyakan merepresentasikan jati diri atau kehendak beridentitas orangnya pada kesamaan sifat tokoh wayang menjadi cukup nyata.


Stempel, Kartu Ucapan, Kartu Nama di Jogja Tahun 1930-an


Gambar Punakawan seperti merepresentasikan bahwa orang yang mengirimkan cap, stempel atau teks dalam format stempel itu adalah sebagai wong cilik; sebuah tata krama khas Jawa yang mencoba selalu merendah di hadapan orang lain. Kartu nama/ stempel dengan gambar Raden Janaka (Arjuna) dan Dewi Wara Sembadra seolah juga menegaskan harapan orang yang berkirim teks atau stempel tersebut agar orang yang dikirimi stempel hidup rukun, serasi, dan damai seperti pasangan Arjuna-Sembadra.

Mencermati stempel dan kartu ucapan, kartu nama masa lalu juga mengingatkan orang bahwa jati diri seseorang merupakan sesuatu yang penting, yang sadar maupun tidak, tersembunyi maupun terang-terangan sesungguhnya ingin dikenali dan dihargai serta diakui oleh orang lain. Stempel, kartu nama, dan kartu ucapan sebenarnya menunjukkan akan itu semua sehingga orang pun bisa dipastikan tidak akan suka membuat model stempel, kartu nama, dan kartu ucapan yang persis sama dengan milik orang lain. Hal ini menegaskan bahwa orang ingin diterima sesuai dengan kekhasan dirinya, lengkap dengan selera dan ide-idenya.


Stempel, Kartu Ucapan, Kartu Nama di Jogja Tahun 1930-an


Berikut ini disajikan contoh-contoh kartu nama atau kartu ucapan dan stempel atau cap yang termuat dalam Javaansche Almanak terbitan Drukkerij en Uitgegevensfirma v/h H. Buning, Djokja, 1934. Silakan menikmati.
Sumber: 1934, Javaansche Almanak 1934, Djokja: Drukkerij en Uitgegevensfirma v/h H. Buning.

Prajurit Mataram Sekitar Abad 17-19

Prajurit Mataram Sekitar Abad 17-19



Prajurit Mataram Sekitar Abad 17-19


Berikut ini adalah gambar atau lukisan sosok prajurit Mataram. Tidak diketahui periode Mataram yang manakah yang dimaksudkan. Akan tetapi menilik gaya pakaiannya, hampir dapat dipastikan bahwa sosok prajurit ini adalah sosok prajurit Mataram Islam. Sekalipun demikian, kemungkinan besar pakaian prajurit Mataram semacam ini mulai dikenakan sejak abad-abad 16-19. Hal ini didasarkan pada sumber dari gambar atau foto ini yang terdapat dalam buku yang diacu (lihat bagian akhir halaman ini).


Jika dicermati pakaian yang dikenakan prajurit ini tampak relatif cukup mewah. Melihat hal yang demikian sangat dimungkinkan sosok ini merupakan prajurit dengan pangkat yang lumayan tinggi juga. Tidak mustahil juga jika ia adalah seorang komandan pasukan dalam unit tertentu. Kemewahan pakaian dari prajurit ini bisa dilihat dari rompi luar yang dikenakannya di samping hem atau kemeja (warna putih). Rompi ini kemungkinan besar berhiaskan sulaman benang warna emas di bagian depan (sepanjang tempat kancing). Baju lengan panjang warna gelap yang mungkin dikenakan di luar kemeja dan di dalam rompi kemungkinan bagian dari potongan baju berbentuk rompi. Mungkin juga merupakan pakaian tersendiri.



Unsur kemewahan lain mungkin bisa dilihat dari sabuk yang dikenakannya yang mungkin merupakan sabuk berbahan kain linen dan bermatakan sabuk logam jenis perak, emas, kuningan, atau jenis logam lain. Kain yang dikenakannya hingga sedikit di bawah lutut mungkin bukan merupakan unsur kemewahan, namun merupakan kelaziman. Hanya saja celana panjang hingga mata kaki mungkin agak terasa janggal sebagai pakaian prajurit Mataram zaman itu yang umumnya mengenakan celana panjang yang panjangnya hanya sampai bagian lutut saja.



Jika dicermati prajurit ini tampak tidak mengenakan sepatu atau alas kaki. Pada galibnya orang-orang Jawa pada masa itu (abad 16-18) dapat dikatakan sebagai memang tidak bersepatu kecuali orang tersebut berkedudukan sebagai petinggi kerajaan (bupati, pangeran, dan seterusnya) atau juga kaum bangsawan.



Senjata yang dikenakan (dibawa) oleh prajurit ini setidaknya ada empat bilah. Satu bilah tombak panjang, satu bilah pedang di tangan kiri, dan dua bilah keris yang diselipkan di bagian pinggang kiri dan kanan. Posisi keris pun menunjukkan bagian hulu atau tangkai keris berada di bagian depan perut sehingga mengesankan bahwa keris tersebut dalam posisi siap dihunus atau dicabut.



Penutup kepala dari prajurit ini hanya berupa selembat kain sebagai ikat kepala. Tidak ada penutup sejenis topi atau yang lainnya. Penutup kepala berupa selembat kain yang diikatkan dan sering disebut ”iket”. Iket tampaknya menjadi penutup kepala yang lazim dikenakan orang Jawa masa itu. Jadi, iket tersebut mungkin bukan menjadi bagian dari unsur kemewahan pakaian yang dikenakannya.



Prajurit-prajurit seperti itulah yang menjadi salah satu tulang punggung pasukan Mataram dalam menaklukkan berbagai wilayah serta menjaga keamanan keluarga raja, istana, dan negaranya. Bahkan prajurit semacam itu mungkin juga yang dijadikan andalan oleh Mataram untuk menyerbu Batavia (1628 dan 1629). Bisa dibayangkan bagaimana tingkat kesulitan atau tantangan medan yang berat yang harus dilalui prajurit-prajurit tersebut mengingat zaman-zaman itu akses jalan dan trans[ortasi serta jaringan informasi masih sedemikian minim dan sederhananya. Dalam kondisi tanpa alas kaki, tanpa pelindung kepala yang memadai, dan dengan pakaian yang memang tidak praktis akan membuat para prajurit Mataram tersebut bertambah kesulitannya ketika harus bertempur di medan perang. Belum lagi logistik yang tidak memadai membuat prajurit tersebut akan menemui kendala berganda untuk menunaikan pekerjaan dan kewajibannya. Sekalipun demikian, mereka dituntut militansinya untuk membela negara dan rajanya.




Sumber: Haks, Leo dan Guus Marsi, 1995, Lexicon of Foreign Artists who Visualized Indonesia (1600-1950), Singapura: Archipelago Press via Rachmat Ruchiat, 2012, Asal-Usul Nama di Jakarta, Jakarta: Masup, halaman114.

Pohon Kenari di Borobudur Tahun 1930-an

Pohon Kenari di Borobudur Tahun 1930-an



Pohon Kenari di Borobudur Tahun 1930-an


Berikut ini adalah foto tentang Candi Borobudur yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sosoknya yang mempesona telah mampu menyedot perhatian banyak orang, baik orang Indonesia sendiri maupun orang-orang mancanegara. Bahkan candi ini pernah dikategorikan sebagai tujuh keajaiban dunia. Candi ini kini menjadi salah satu objek wisata sekaligus tempat perayaan hari-hari besar agama Buda, khususnya hari raya Waisak.


Borobudur memang tidak terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, namun dalam pengelolaan pariwisata candi ini menjadi satu rangkaian pengelolaan dengan Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko yang terletak di Prambanan Klaten (Jateng) dan Prambanan Sleman (DIY).
Borobudur telah mengalami relative banyak perkembangan. Candi ini pernah mengalami perbaikan (rehabilitasi dan renovasi) besar-besaran karena alas atau dasarnya pernah mengalami pengamblasan. Pengamblasan ini membuat posisi berdiri Candi Borobudur menjadi miring. Penyelamatan candi ini bahkan kemudian juga melibatkan Bank Dunia dan Unesco.

Foto yang dibuat pada tahun 1930-an (1935) ini menunjukkan betapa asrinya suasana Borobudur di masa itu. Fotografer yang menyajikan hasil karyanya tampak dengan sengaja menonjolkan sosok batang-batang pohon kenari yang banyak tumbuh di sekitar candi. Sosoknya yang khas menjadi bagian dari identifikasi atau citra Borobudur di masa itu. Perkembangan Candi Borobudur dengan segala macam kepentingan orang yang masuk ke dalamnya mungkin telah mengakibatkan pohon-pohon kenari yang dulunya banyak tumbuh di kompleks candi ini kemudian terpaksa ditebang atau dihilangkan. Ruang-ruang atau tempat hidup pohon-pohon kenari digantikan oleh sosok-sosok lain (bangunan) yang juga meras perlu hidup dan dihidupkan untuk kepentingan hajat hidup orang.

Pertumbuhan atau bertambah besarnya jumlah manusia di muka bumi cepat atau lambat akan menyita banyak ruang. Keperluan akan ruang ini disadari atau tidak akan menggusur banyak lahan hijau termasuk di dalamnya sawah, tegalan, hutan, kebun, dan sebagainya. Tanaman akan terus mengalami penebangan atau pembabatan.

Pohon kenari pernah menjadi penciri khas banyak tempat di Indonesia. Salah satunya adalah jalan di seputaran Kebun Raya Bogor. Namun pohon yang dapat tumbuh besar dengan dedaunan dan dahan yang cukup rindang ini telah banyak mengalami pelenyapan. Tidak hanya di seputaran Borobudur, namun juga di tempat-tempat lain. Foto ini setidaknya mencatat atau merekam bagaimana sosok pohon kenari di masa itu menjadi salah satu pohon yang dipilih atau terpilih untuk memberikan sentuhan tertentu pada tempat-tempat tertentu, seperti Borobudur.

KERATON YOGYAKARTA

Keraton yogya adalah istana milik Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Istana ini didirikan oleh Sultan Hamengkubowono I. Istana ini juga pernah menjadi istana negara pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubowono IX. Pada saat itu Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi pemerintahan pusat Indonesia alias ibukota Indonesia. Tetapi pemindahan ibukota itu tidak lama dan akhirya pemerintahan pusat di kembalikan ke Jakarta lagi. Di sana, juga terdapat alun-alun yang di tengah alun alun tersebut ada beringin kembar yang konon katanya beringin tersebut sama sehingga di sebut beringin kembar. Tetapi sekarang beringin kembar tersebut sudah tidak terlalu terlihat kembar. Di sini, juga terdapat museum kereta keraton yang di dalamnya ada kereta kereta milik Sultan Yogyakarta.


Sejarah Keraton Yogyakarta


Asal mula Kasultanan Jogjakarta diawali ketika pada tahun 1558 M Ki Ageng Pamanahan mendapatkan hadiah sebuah wilayah di Mataram dari Sultan Pajang karena jasanya telah mengalahkan Aryo Penangsang. Pada tahun 1577, Ki Ageng Pemanahan yang tetap selalu setia pada Sultan Pajang sampai akhir hayatnya, membangun istananya di Kotagede. Penggantinya, Sutawijaya, anak Ki Ageng Pemanahan, berbeda dengan ayahandanya. Sutawijaya menolak tunduk pada Sultan Pajang dan ingin memiliki daerah kekuasaan sendiri bahkan menguasai Jawa.
Setelah memenangkan pertempuran dengan Kerajaan Pajang, pada tahun 1588, Mataram menjadi kerajaan dengan Sutawijaya sebagai Sultan yang bergelar Panembahan Senopati. Kerajaan Mataram mengalami perkembangan pesat pada masa kekuasaan Sultan generasi keempat, Sultan Agung Hanyokrokusumo. Setelah Sultan Agung wafat dan digantikan putranya, Amangkurat I, Kerajaan Mataram mengalami konflik internal/konflik keluarga yang dimanfaatkan oleh VOC hingga berakhir dengan Perjanjian Giyanti pada bulan Februari 1755 yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta.
Dalam perjanjian tersebut, dinyatakan Pangeran Mangkubumi menjadi sultan Kasultanan Jogjakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwana I. Sejak tahun 1988 hingga sekarang, Kasultanan Jogjakarta dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwana X. Keraton Jogjakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti. Lokasi keraton konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring- iringan jenazah raja-raja Mataram yang akan dimakamkan di Imogiri.
Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Jogjakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Lokasi Keraton Jogjakarta berada di antara Sungai Code di sebelah timur dan Sungai Winongo di sebelah barat serta Panggung Krapyak di sebelah selatan dan Tugu Jogja di sebelah utara. Lokasi ini juga berada dalam satu garis imajiner Laut Selatan dan Gunung Merapi.



Kami akan sangat berterima kasih apabila anda menyebar luaskan artikel Sejarah Keraton Yogyakarta ini pada akun jejaring sosial anda, dengan URL :http://www.kumpulansejarah.com/2013/02/sejarah-keraton-yogyakarta.html